Berita  

Burbacek, Kuliner Khas Indramayu yang Bertahan di Tengah Gempuran Makanan Modern

banner 120x600
banner 468x60

INDRAMAYU – Burbacek atau bubur rumbah cecek merupakan makanan berat yang berbahan dasar beras, yang dikombinasikan dengan sayuran dan cecek atau kulit sapi yang sudah diolah serta siraman sambal kacang, Sabtu (10/1/2026).

Sekilas, burbacek tampak seperti bubur pada umumnya. Namun keunikannya terletak pada paduan rumbah dan cecek yang menciptakan cita rasa khas, sehingga membuat kuliner ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Rumbah sendiri merupakan sajian dari kangkung dan tauge rebus yang disiram sambal kacang bercita rasa asin dan pedas. Sementara cecek dibuat dari kikil sapi yang dipadukan dengan parutan kelapa serta cabai merah, menghasilkan rasa gurih dan pedas.

Kombinasi ketiga unsur tersebut menjadikan burbacek sebagai sajian khas yang masih digemari, termasuk oleh kalangan anak muda di Indramayu.

Ratu (27), warga Kelurahan Margadadi, mengaku menyukai burbacek karena harganya yang terjangkau dan mengenyangkan.

“Harganya murah dan bikin kenyang,” ujar Ratu saat ditemui di sebuah warung burbacek di Jalan Samsu, Kelurahan Margadadi, Indramayu.

Di warung tersebut, satu porsi burbacek dibanderol hanya Rp8.000. Ratu mengungkapkan, dirinya telah menjadi pelanggan sejak kecil karena lokasi warung tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Hal senada disampaikan Faisal (30), warga Indramayu lainnya. Menurutnya, burbacek menawarkan beragam rasa dalam satu suapan.

“Kuah burbacek itu asin, mungkin ada sedikit terasi, lalu sambal rumbah yang pedas, dan cecek yang gurih-pedas. Semua rasanya bisa dirasakan dalam satu gigitan,” ungkap Faisal.

Saat ini, jumlah penjual burbacek di Kecamatan Indramayu terbilang semakin sedikit dan bisa dihitung dengan jari. Faisal berharap para penjual yang masih bertahan tidak beralih profesi ke usaha kuliner lain.

Ia juga berharap jumlah penjual burbacek kembali bertambah, mengingat makanan tersebut dulunya merupakan makanan utama masyarakat Indramayu.

Sementara itu, Mukidin (46), salah satu penjual burbacek, mengaku bangga masih bisa mempertahankan kuliner khas Bumi Wiralodra tersebut.

Berdasarkan cerita orang tuanya, Mukidin mengatakan bahwa burbacek dahulu merupakan hidangan utama masyarakat Indramayu, khususnya untuk sarapan pagi.

“Kalau dimakan siang juga enak, tapi dulu umumnya orang sarapan pakai burbacek,” kata Mukidin.

Ia menambahkan, burbacek sudah menjadi identitas kuliner Indramayu sejak masa pasca-kemerdekaan. Bahkan, sajian ini kerap dihidangkan dalam acara syukuran.

“Dulu yang bisa menyajikan burbacek untuk syukuran dianggap orang berada, misalnya keturunan Arab di Desa Dermayu,” ujarnya.

Mukidin telah menjajakan burbacek selama lebih dari 10 tahun, meneruskan usaha sang ibu. Ia berharap burbacek kembali menjadi sajian utama lintas generasi, meski saat ini keberadaannya mulai tersisihkan oleh maraknya makanan luar negeri yang masuk ke Indramayu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *