INDRAMAYU,DC– Program Pesantren Ramadan Lansia kembali digelar oleh Rumah Zakat Indramayu. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para lanjut usia (lansia) untuk mengisi bulan suci dengan aktivitas keagamaan yang positif dan produktif.
Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, pesantren Ramadan lansia ini berlangsung selama 10 hari. Hari pertama diawali dengan pembukaan, kemudian rangkaian kegiatan dilaksanakan hingga penutupan di hari ke-10.
Relawan Inspirasi Rumah Zakat, Lastri Mulyani, menyampaikan bahwa kegiatan utama dalam pesantren ini adalah tadarus Al-Qur’an secara berkelompok.
“Para peserta yang sudah mampu membaca Al-Qur’an akan membaca secara bergiliran, bahkan dalam pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, selama 10 hari pelaksanaan bisa mencapai beberapa kali khataman,” ucap Lastri, Senin 2 Maret 2026.
Sementara bagi lansia yang belum bisa membaca Al-Qur’an, difasilitasi pembelajaran Iqra secara bertahap. Dengan pendampingan, para peserta belajar mulai dari dasar hingga perlahan mampu membaca dengan lebih lancar.
“Selain ngaji, setelah proses tadarus dan belajar Iqra, ada juga kultum atau ceramah dari pemateri yang berbeda-beda setiap harinya,” ujarnya.
Tahun ini, terdapat program tambahan berupa sedekah sampah. Para lansia membawa sampah plastik atau botol plastik dari rumah. Sampah tersebut kemudian dikumpulkan dan dikelola, hasilnya digunakan untuk mendukung kegiatan lansia itu sendiri.
Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah sekitar 40 hingga 45 orang, berasal dari berbagai wilayah di Desa Tegalurung, baik dari bagian timur, tengah, maupun barat desa.
“Diharapkan melalui Pesantren Ramadan Lansia ini, para peserta dapat memanfaatkan bulan Ramadan dengan kegiatan yang bermanfaat serta meningkatkan pemahaman agama,” ujarnya.
Sementara itu, Catu Uripah (69) salah satu peserta mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Selain mendapatkan ceramah agama dari ustaz, para lansia juga rutin mengikuti pengajian mingguan dan bulanan.
“Ada yang baca Iqra, ada yang sudah bisa baca Qur’an. Kalau yang sudah bisa, lanjut sampai satu juz, bahkan lebih,” ujar Catu.
Beberapa peserta bahkan mengaku sebelumnya tidak bisa membaca, namun kini mulai belajar melalui program Iqra yang rutin digelar seminggu sekali. (*)
















