Berita  

Setahun Sekali Hadir Saat Ramadan, Mie Ragit Jadi Buruan Berbuka

banner 120x600
banner 468x60

INDRAMAYU,DC – Di sebuah rumah sederhana di Perum Bumi Dermayu Indah (BDI) 3, Desa Tambak, Kecamatan Indramayu, aroma santan dan kaldu udang mulai mengepul sejak siang hari. Dari dapur itulah, harapan dan rezeki keluarga kecil diracik perlahan melalui seporsi Mie Ragit.

Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Mie Ragit bukan sekadar takjil. Ia adalah tradisi. Ia adalah kenangan. Dan bagi sebagian orang, ia adalah penantian setahun sekali.

Kuliner khas yang konon berasal dari Kelurahan Karanganyar ini hanya muncul saat bulan suci Ramadan. Di luar itu, Mie Ragit seakan menghilang dari peredaran.

Bagi Muhammad Iman (52), Mie Ragit bukan sekadar dagangan musiman. Ia adalah warisan keluarga. Resepnya diturunkan langsung dari orang tua, lengkap dengan cara mengolah kuah santan yang kaya rasa dan aroma udang kecil yang khas.

“Mie Ragit ini khas Indramayu. Cuma ada di bulan puasa, di luar puasa nggak ada yang jual,” ujarnya sembari tersenyum, Minggu 22 Februari 2026.

Sepintas, tampilannya sederhana. Mi kenyal yang terbuat dari tepung dan telur disusun rapi dalam wadah, ditaburi irisan telur dadar berbumbu, lalu diguyur kuah kari santan gurih. Namun rahasianya ada pada kuahnya.

Kuah Mie Ragit dimasak dengan santan segar, bawang putih, daun jeruk, serta udang kecil-kecil yang menjadi sumber rasa gurih alami. Tanpa tambahan penyedap instan, cita rasanya justru semakin kuat dan membekas di lidah.

Setiap Ramadan, Iman bersama sang istri, Eni Kristinawati (45), mulai memasak sejak pukul 12.00 WIB. Empat kilogram bahan mie diolah setiap hari, menghasilkan sekitar 50 porsi.

Menjelang sore, biasanya dagangan sudah habis bahkan sebelum sempat dipajang di depan rumah.

“Masuk hari keempat puasa ini belum pernah jualan di depan rumah. Sudah habis duluan karena pesanan. Sampai ada tetangga yang bilang katanya jualan, tapi nggak pernah kelihatan,” katanya sambil tertawa kecil.

Harga seporsi Mie Ragit pun ramah di kantong, hanya Rp7.000. Bahkan tersedia porsi Rp5.000 sesuai kemampuan pembeli. Tak sedikit pula yang membeli untuk dijual kembali.

Ramadan memang membawa berkah tersendiri bagi keluarga ini. Di luar bulan puasa, Iman bekerja sebagai pedagang kantin di Kantor Perum Bulog. Namun saat Ramadan, kantin tutup dan dapur rumahnya menjadi pusat aktivitas.

Selain Mie Ragit, mereka juga membuat kolak, candil, lumpia, dan aneka jajanan berbuka lainnya.

Dari usaha kecil yang dijalani selama 14 tahun terakhir itu, Iman dan Eni perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Mereka bisa mencicil rumah sendiri dan menyekolahkan kedua anaknya hingga pendidikan tinggi.

Anak sulungnya kini duduk di semester dua perguruan tinggi, sementara si bungsu masih kelas 12 SMA.

“Dulu saya kerja di bengkel variasi mobil. Dibandingkan dulu, enakan usaha. Sudah saya rasakan sendiri. Walaupun kecil-kecilan, alhamdulillah menghasilkan. Mudah-mudahan berkah buat anak,” ucapnya penuh syukur.

Di Indramayu, Mie Ragit mungkin hanya hadir sebulan dalam setahun. Namun bagi keluarga Iman, setiap porsi yang terjual adalah cerita tentang ketekunan, warisan rasa, dan doa yang diaduk bersama kuah santan hangat menjelang waktu berbuka.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *