Berita  

Modernisasi Pertanian PM-AAS Diterapkan di Indramayu, Targetkan Produksi Padi 10 Ton per Hektare

banner 120x600
banner 468x60

INDRAMAYU,DC – Pemerintah terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui penerapan sistem Pertanian Modern Agriculture Advance System (PM-AAS) yang diadaptasi dari model pertanian modern di Arkansas, Amerika Serikat.

Program tersebut diterapkan dalam kegiatan penanaman padi bersama Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Husnain dan Bupati Lucky Hakim di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.

Penerapan PM-AAS dilakukan di lahan seluas 100 hektare sebagai bagian dari pengembangan pertanian modern nasional. Selain proses tanam menggunakan alat modern, perawatan tanaman juga memanfaatkan teknologi drone untuk penyemprotan.

Husnain menjelaskan, sistem PM-AAS memiliki pola tanam berbeda dibanding metode konvensional, terutama pada kepadatan populasi tanaman yang lebih tinggi sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.

“Ini tanam padi dengan Sistem PM-AAS, menerapkan teknologi berbeda. Populasinya tinggi, jarak antarbaris itu hampir tidak ada, pupuknya juga berbeda. Lainnya juga kita jaga seperti OPT. Target dari tanaman padi ini 10 ton per hektare. Ada 15 titik di 14 provinsi dengan total keseluruhan 2.000 hektare,” ujar Husnain.

Menurutnya, modernisasi pertanian tersebut merupakan hasil kajian dan inovasi yang kini mulai diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

“Dengan alat yang disiapkan, tanaman bisa lebih rapat dan produktivitas meningkat hampir 100 persen. Dari sebelumnya sekitar 6 ton bisa menuju 10 ton per hektare,” katanya.

Ia juga menyebut penggunaan benih memang lebih banyak dibanding sistem tanam biasa. Namun peningkatan kebutuhan benih dinilai sebanding dengan hasil panen yang akan diperoleh petani.

Sementara itu, Lucky Hakim menegaskan modernisasi pertanian harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman.

“Harga benih memang lebih banyak, tapi murah dibanding hasil yang nanti didapatkan. Modernisasi dilakukan di semua lini, mulai dari penanaman, pembibitan, sampai perawatan. Ada drone-drone yang digunakan untuk penyemprotan pestisida dan lainnya,” ujar Lucky Hakim.

Ia menambahkan, modernisasi pertanian menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas di tengah keterbatasan lahan sawah yang terus terancam berkurang akibat pembangunan.

“Tujuannya untuk intensifikasi peningkatan tonase, karena hamparan sawah tidak bisa kita tambah, justru yang ada berkurang. Indramayu sudah punya LP2B sekitar 86 ribu hektare yang tidak bisa diutak-atik,” tegasnya.

Lucky Hakim juga menekankan pentingnya penataan kawasan agar lahan pertanian tetap terjaga dan tidak bercampur dengan kawasan industri.

“Saya tidak mau ada sawah berdampingan dengan pabrik. Sawah ya sawah total. Kawasan industri ada zonanya sendiri supaya tidak mengganggu pertanian,” katanya.

Melalui penerapan PM-AAS dan dukungan teknologi modern seperti drone pertanian, pemerintah berharap produktivitas padi nasional terus meningkat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.(Sela)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *