Berita  

Perpustakaan Saung di Bantaran Sungai Cimanuk Berjuang Menyalakan Literasi di Era Digital

banner 120x600
banner 468x60

INDRAMAYU, DC – Di sebuah pos kamling sederhana di bantaran tanggul Sungai Cimanuk, Blok Como, Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, berdiri sebuah perpustakaan mini yang menjadi simbol perjuangan menjaga budaya literasi di tengah derasnya arus digital.

Perpustakaan yang didirikan secara swadaya pada akhir 2018 itu digagas oleh Tardiarto (46) bersama warga yang tergabung dalam Komunitas Lentera Selawe. Berawal dari keprihatinan melihat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain gim di ponsel dibanding membaca buku, mereka mengubah pos kamling menjadi ruang baca yang terbuka bagi masyarakat.

“Awalnya karena banyak anak-anak kecanduan main HP dan minat baca bukunya rendah,” ujar Tardiarto.

Perpustakaan yang berada tepat di depan rumahnya itu kini memiliki koleksi ratusan hingga hampir seribu buku, mulai dari buku pengetahuan, novel, hingga komik. Sebagian besar koleksi berasal dari donasi masyarakat, sementara sisanya merupakan bantuan pemerintah.

Pada masa awal berdiri, perpustakaan tersebut cukup ramai dikunjungi anak-anak. Kehadiran lapangan bulu tangkis di samping rumah Tardiarto turut membuat kawasan itu menjadi pusat aktivitas warga. Setiap selesai bermain, anak-anak diajak meluangkan waktu membaca buku.

“Walaupun kebanyakan membaca novel, buku cerita, atau komik, setidaknya mereka mau membaca,” kenangnya.

Namun, dalam setahun terakhir, aktivitas perpustakaan mulai meredup. Rak-rak buku yang dulu ramai kini lebih sering berdebu karena minim pengunjung.

Menurut Tardiarto, tantangan terbesar bukan hanya pengaruh gawai, tetapi juga keterbatasan koleksi buku baru serta kesibukan anggota Komunitas Lentera Selawe untuk mengelola perpustakaan.

“Untuk membudayakan membaca memang penuh tantangan,” katanya.

Meski demikian, Tardiarto memilih tidak menyerah. Filosofi nama Lentera Selawe yang berarti “25 cahaya” menjadi penyemangat agar semangat literasi tetap menyala meski dalam keterbatasan.

Kini, ia mulai merancang pendekatan baru dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana literasi. Menurutnya, membaca tidak harus selalu melalui buku cetak.

Salah satu langkah yang sudah dilakukan adalah mengajak warga membaca berita dari media daring ketika muncul isu atau peristiwa yang sedang ramai diperbincangkan, sehingga masyarakat tidak hanya mengandalkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Misalnya waktu kecelakaan di Pantura yang korbannya 12 orang. Daripada cuma dengar katanya, saya ajak warga buka HP dan baca beritanya langsung. Setidaknya ada aktivitas membaca yang mereka lakukan,” ungkapnya.

Bagi Tardiarto, perubahan media bukanlah masalah selama semangat membaca tetap tumbuh. Kisah perjuangan Komunitas Lentera Selawe di bantaran Sungai Cimanuk menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap literasi dapat terus hidup, baik melalui lembaran buku maupun layar digital.(Sela)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *